Oleh: Vanessa Elleanor Monoarfa
Menjadi awardee Indonesian International Student Mobility Awards pada tahun 2024 membawa saya pada sebuah ruang belajar yang tidak hanya mengubah cara saya memahami pendidikan, tetapi juga memperluas cara pandang saya terhadap manusia, budaya, dan diri sendiri. Sebagai mahasiswa Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, kesempatan untuk menempuh studi selama satu semester di The University of Adelaide menjadi titik penting dalam perjalanan akademik sekaligus personal saya.
Keputusan memilih The University of Adelaide pada awalnya lahir dari pertimbangan yang cukup sederhana. Saya menyesuaikan pilihan universitas dengan kemampuan bahasa Inggris yang saya miliki serta mata kuliah yang tersedia pada saat proses pendaftaran. Namun, di luar pertimbangan teknis tersebut, saya justru menemukan lingkungan belajar yang mempertemukan saya dengan perspektif-perspektif baru yang sebelumnya belum pernah saya temui selama menjalani studi di Indonesia.

Salah satu mata kuliah yang paling membekas bagi saya adalah People, Cultures, Societies: Doing Anthropology. Sebagai mahasiswa seni pertunjukan, mempelajari antropologi menghadirkan pengalaman intelektual yang sangat menarik karena saya diajak melihat masyarakat dan kebudayaan melalui sudut pandang yang lebih kritis dan reflektif. Perkuliahan ini tidak hanya membahas budaya sebagai identitas atau tradisi semata, melainkan sebagai sesuatu yang hidup, dinegosiasikan, dan terus berubah dalam kehidupan sehari-hari. Dari sana, saya mulai memahami bahwa seni, tubuh, dan praktik budaya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan cara manusia membangun makna atas kehidupannya.
Berhadapan dengan sistem pembelajaran yang sepenuhnya baru tentu bukan hal yang mudah. Penggunaan bahasa Inggris dalam diskusi akademik, ritme perkuliahan yang cepat, serta tuntutan membaca berbagai materi setiap minggu menjadi tantangan yang cukup besar pada masa awal perkuliahan. Saya sempat merasa tertinggal dan kesulitan mengikuti dinamika kelas. Namun, situasi tersebut perlahan membentuk kebiasaan belajar yang lebih disiplin sekaligus melatih keberanian saya untuk aktif menyampaikan pendapat, meskipun masih berada dalam proses beradaptasi. Di tengah proses tersebut, saya berhasil memperoleh nilai 94 pada mata kuliah antropologi. Bagi saya, pencapaian ini bukan sekadar angka akademik, melainkan simbol dari kemampuan untuk bertahan dan berkembang di lingkungan yang asing. Nilai tersebut menjadi pengingat bahwa keterbatasan bahasa maupun perbedaan sistem belajar tidak selalu menjadi penghalang selama seseorang memiliki kemauan untuk terus belajar dan berusaha memahami hal-hal baru.

Di luar ruang kelas, kehidupan selama program pertukaran juga mempertemukan saya dengan banyak momen yang memperkaya cara saya memandang relasi sosial dan lingkungan. Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah saat mengikuti program sukarela penanaman pohon bersama Waite Conservation Reserve. Kegiatan sederhana tersebut memberikan refleksi mengenai pentingnya tanggung jawab kolektif terhadap keberlanjutan lingkungan. Saya melihat bagaimana kepedulian terhadap alam tidak hanya hadir sebagai wacana, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata yang dilakukan bersama komunitas.
Selain itu, saya juga dipercaya untuk menjalankan peran sebagai Student Representative. Tanggung jawab ini mengajarkan saya bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti berada di posisi paling depan, melainkan tentang kesiapan untuk hadir, mendengarkan, dan membantu orang lain menghadapi tantangan yang sama. Tinggal di negara baru membuat saya menyadari bahwa setiap individu sedang berjuang dengan caranya masing-masing untuk beradaptasi. Dari situ, saya belajar menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain sekaligus lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Bagi saya, program ini bukan hanya tentang mobilitas akademik atau kesempatan belajar di luar negeri. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang untuk memahami bagaimana seseorang dapat tumbuh ketika dihadapkan pada lingkungan yang asing dan penuh perbedaan. Sebagai mahasiswa seni, saya merasakan bahwa keberagaman budaya yang saya temui selama berada di Australia memperluas sensitivitas saya dalam melihat hubungan antara seni, identitas, dan kehidupan sosial.
Pada akhirnya, perjalanan ini membuat saya memahami bahwa proses belajar tidak selalu terjadi di dalam studio atau ruang kelas. Terkadang, pembelajaran justru hadir ketika seseorang harus keluar dari ruang yang familiar, menghadapi ketidakpastian, dan menemukan cara baru untuk memahami dunia. Melalui kesempatan ini, saya tidak hanya membawa pulang pengetahuan akademik, tetapi juga cara pandang baru tentang keberanian, adaptasi, dan makna pertumbuhan sebagai seorang manusia maupun seniman.





