Oleh : Ni Made Tirta Baira Pusparini
Selama saya mengikuti program Summer School di Nanjing University of the Arts, China dalam rentang Oktober hingga Desember 2025, saya menjalani proses pembelajaran dan adaptasi baru yang tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga mempelajari tentang kebudayaan baru yaitu kebudayaan dari China.
Sejak awal program, saya berkomitmen untuk menjaga kedisiplinan dan tanggung jawab sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Hal ini tercermin dari konsistensi saya dalam hadir tepat waktu di setiap kelas, mematuhi peraturan kampus, serta menjaga sikap sopan dan menghormati seluruh civitas akademika, mulai dari dosen, teman sekelas, hingga staf kampus. Saya juga berusaha membangun hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses adaptasi di negara baru.

Dalam aspek akademik, perkembangan pembelajaran bahasa Mandarin saya berlangsung secara bertahap namun signifikan. Pada bulan pertama, saya mempelajari dasar-dasar bahasa Mandarin hingga sekitar pelajaran ke-9, saya juga selalu ikut serta dalam mengikuti kelas tambahan lainnya yaitu kelas lukis tradisional China yang memperkenalkan objek-objek khas seperti anggrek, kepiting, udang, dan bunga nasional Tiongkok. Proses ini tidak hanya melatih kemampuan teknis, tetapi juga memperkenalkan nilai estetika budaya Tiongkok.
Memasuki bulan berikutnya, kemampuan bahasa saya meningkat dengan penyelesaian materi HSK 1 dan hampir menyelesaikan HSK 2. Saya mulai memahami berbagai pola kalimat penting seperti penggunaan “比” dan “得”, serta penggunaan kata pengukur dan kata sifat. Saya juga mengikuti ujian tengah semester khususnya pada kemampuan mendengar. Untuk mendukung pembelajaran, saya menerapkan kebiasaan belajar mandiri dengan mengulang materi setiap malam, menyelesaikan tugas tepat waktu, serta memanfaatkan fasilitas perpustakaan sebagai ruang belajar.
Pada bulan terakhir, perkembangan tersebut semakin terlihat dengan keberhasilan saya menyelesaikan level HSK 2 dan mulai memasuki materi HSK 3. Saya mulai mampu menggunakan struktur kalimat yang lebih kompleks dan menerapkannya dalam komunikasi sehari-hari, baik secara lisan maupun tulisan. Meskipun menghadapi kendala dalam memahami penjelasan dosen yang menggunakan aksen kuat dan berbicara dengan cepat, saya mengatasinya dengan aktif bertanya setelah kelas, berdiskusi dengan teman, serta melatih kemampuan berbicara melalui interaksi langsung dengan masyarakat kampus seperti petugas keamanan dan penjual kantin.
Selain kegiatan akademik, saya juga aktif mengikuti berbagai kegiatan non-akademik yang memperkaya pengalaman budaya dan sosial. Pada bulan Oktober, saya berpartisipasi dalam kegiatan sports festival dengan mengikuti parade pembukaan dan fashion show dengan menggunakan busana khas Indonesia. Saya juga memberikan dukungan kepada teman-teman yang berkompetisi. Pada saat itu saya juga ikut menjaga dan mempromosikan tenant untuk penjualan merchandise dengan nuansa kebudayaan Indonesia.

Pada bulan-bulan berikutnya, keterlibatan saya semakin luas melalui partisipasi dalam berbagai workshop dan kegiatan budaya, seperti Character Art Workshop, Tie-Dye Craft Workshop, serta kunjungan ke Nanjing World Literature Hall dan workshop seni warisan budaya takbenda Tiongkok. Saya juga menghadiri berbagai pertunjukan seperti teater, konser musik, dan kompetisi debat bertema seni dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, saya tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga memperluas kosakata bahasa Mandarin dalam konteks nyata serta memahami budaya lokal secara lebih mendalam.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kunjungan ke Exhibition of the Nanjing Massacre, yang memberikan wawasan historis dan pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah serta memori kolektif masyarakat Tiongkok. Kegiatan ini menjadi refleksi penting dalam memahami nilai kemanusiaan dan sejarah global.
Meskipun selama program saya belum sempat mengikuti kegiatan sukarela maupun kompetisi, saya tetap memiliki semangat dan kesiapan untuk berpartisipasi apabila terdapat kesempatan yang sesuai di masa mendatang. Sikap ini mencerminkan keterbukaan saya terhadap pengalaman baru dan keinginan untuk terus berkembang, baik secara akademik maupun non-akademik.
Secara keseluruhan, program Summer School ini memberikan dampak yang sangat positif bagi perkembangan diri saya. Tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin, tetapi juga membentuk karakter disiplin, memperluas wawasan budaya, serta meningkatkan kemampuan adaptasi dan menjalin relasi secara Internasional. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi saya untuk melanjutkan perjalanan akademik di masa depan.


