Bakti Budaya IKASTISI Yogyakarta: Menggali Seni Tradisi sebagai Sumber Penciptaan Tari di Banyumas/Purbalingga

Bakti Budaya IKASTISI Yogyakarta: Menggali Seni Tradisi sebagai Sumber Penciptaan Tari di Banyumas/Purbalingga

Banyumas/Purbalingga – Ikatan Alumni Institut Seni Indonesia (IKASTISI) Yogyakarta siap menggelar kegiatan “Bakti Budaya” yang bertujuan untuk pelestarian dan pengembangan seni tari di wilayah Kabupaten Banyumas atau Purbalingga. Kegiatan ini berfokus pada topik esensial, yaitu “Seni Tradisi sebagai Sumber Penciptaan Tari”, yang juga sangat relevan dengan kebutuhan para peserta didik dalam menghadapi ajang bergengsi seperti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

Inisiatif Alumni untuk Pengembangan Seni Tari

Rencana kegiatan “Bakti Budaya” ini merupakan inisiatif dan kontribusi nyata dari para alumni ASTI/ISI Yogyakarta yang tergabung dalam IKASTISI. Program ini sekaligus menjadi bagian resmi dari program kerja organisasi dalam upaya memajukan seni dan budaya daerah.

Untuk menindaklanjuti rencana ini, IKASTISI telah melayangkan surat permohonan bantuan dan koordinasi kepada Kepala Dinas Kebudayaan/Kepala Bidang Kebudayaan serta Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Tari Kabupaten Banyumas/Purbalingga.

Jadwal dan Tim Pelaksana Inti

Kegiatan Bakti Budaya ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 28 s.d. 29 November 2025. Tim pelaksana inti yang merupakan para alumni berkompeten, siap menjalankan program ini, antara lain: Bambang Pujasworo, Ni Nyoman Sudewi, Sigit Gunarjo, Win Pujiprianto, Riera Theotera, dan Heny Winahyu.Tim pelaksana inti saat ini tengah menyusun konsep dan proposal kegiatan secara detail untuk segera disampaikan kepada pihak terkait, memastikan program berjalan maksimal dan tepat sasaran.

Ketua Pelaksana Bakti Budaya IKASTISI Yogyakarta: Sigit Gunarjo memberikan cindramatar pada ketua MGMP Kabupaten Banyumas/Purbalingga (Foto ist.)

Relevansi dengan FLS2N dan Antusiasme Peserta

Fokus utama kegiatan, “Seni Tradisi sebagai Sumber Penciptaan Tari”, menjadi topik yang sangat strategis. Dalam konteks FLS2N, pemahaman mendalam tentang akar seni tradisi sangat krusial bagi siswa untuk menghasilkan karya tari yang otentik, inovatif, dan berbobot. Melalui kegiatan ini, para peserta diajak menggali khazanah lokal dan menjadikannya inspirasi utama dalam proses kreatif penciptaan tari garapan baru.

“Kegiatan yang dilakukan oleh anggota IKASTISI wilayah Yogyakarta ini sangat bermanfaat. Kami merasa sangat gembira karena mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana menjadikan kekayaan seni tradisi kita sebagai sumber ide tak terbatas untuk penciptaan tari,” ujar salah satu perwakilan peserta, menggambarkan kesan positif dan manfaat yang didapatkan.

Antusiasme tinggi dari para peserta menunjukkan bahwa transfer ilmu dan pengalaman dari para alumni ASTI?ISI Yogyakarta ini diterima dengan baik dan memberikan dorongan semangat baru dalam berkesenian.

Foto bersama pada kegiatan Bakti Budaya IKASTISI Yogyakarta

Harapan Koordinasi dan Dukungan Pihak Setempat

IKASTISI sangat mengharapkan bantuan dan dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan dan MGMP Tari setempat. Dukungan tersebut sangat diperlukan terutama dalam hal perizinan, penentuan lokasi yang strategis, serta koordinasi dengan pihak sekolah atau komunitas tari di Banyumas/Purbalingga agar jangkauan kegiatan ini bisa maksimal.

Melalui sinergi antara alumni perguruan tinggi seni, pemerintah daerah, dan komunitas pendidikan seni, diharapkan kegiatan “Bakti Budaya” ini tidak hanya menjadi event sesaat, tetapi juga pemicu semangat pelestarian dan pengembangan seni tari yang berkelanjutan di wilayah tersebut.

Reporter : R.Dt.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *